Fokus pada satu tujuan dan percayalah pada dirimu bahwa kamu mampu meraihnya. You will when you believe.

Senin, 16 September 2013

Model Pembelajaran Active Learning


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan suatu model pembelajaran yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Model pembelajaran yang ditawarkan tersebut adalah strategi belajar aktif (active learning). Selama ini proses pembelajaran lebih sering diartikan sebagai pengajar menjelaskan materi pembelajaran dan peserta didik mendengarkan secara pasif. Namun telah banyak ditemukan bahwa kualitas pembelajaran akan meningkat jika peserta didik dalam proses pembelajaran memperoleh kesempatan yang luas untuk bertanya, berdiskusi, dan menggunakan secara aktif pengetahuan baru yang diperoleh. Dengan cara ini diketahui pula bahwa pengetahuan baru tersebut cenderung untuk dapat dipahami dan dikuasai secara lebih baik.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam makalah, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Active Learning?
2.      Apa sajakah karakteristik dari Model pembelajaran Active Learning?
3.      Apa sajakah prinsip-prinsip dari Model pembelajaran Active Learning?
4.      Bagaimana sintak-sintak atau langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning?
5.      Apa saja jenis-jenis dari Model pembelajaran Active Learning?
6.      Apa sajakah kelebihan dan kelemahan Model pembelajaran Active Learning?

1.1  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa tujuan :
1.      Mengetahui pengertian dari Model pembelajaran Active Learning
2.      Mengetahui karakteristik dari Model pembelajaran Active Learning
3.      Mengetahui prinsip-prinsip dari Model pembelajaran Active Learning
4.      Mengetahui sintak atau langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning
5.      Mengetahui jenis-jenis Model pembelajaran Active Learning
6.      Mengetahui kelebihan dan kelemahan Model pembelajaran Active Learning


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Model  Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Model pembelajaran aktif adalah suatu model dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (active learning). Untuk dapat mencapai hal tersebut kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa atau anak didik.
Belajar aktif merupakan perkembangan teori learning by doing (1859-1952). Dewey menerapkan prinsip-prinsip “learning by doing”, bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingin tahuan (curriositas) siswa terdapat hal-hal yang belum diketahuinya, maka akan dapat mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam suatu proses belajar. Belajar aktif berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa serta menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama  berkembang dan berbagi pengetahuan keterampilan, dan pengalaman.
Peran peserta didik dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melakasanakan kegiatan belajar bermakna, serta mengelola sumber belajar yang diperlukan. Siswa juga terlibat dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih menjelajah, mencari mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hsil perolehannya secara komunikatif. Siswa diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan pengalaman dan pengetahuan yan pernah diterimanya.
Melalui model pembelajaran aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping itu, siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, krisis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prnsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
a.       Memanfaatkan sumber belajar dilingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
b.      Berkreasi mengembangkan gagasan baru
c.       Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
d.      Mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
e.       Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh
f.       Memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan
g.      Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Mereka secara aktif menggunakan otak baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Jadi pembelajaran aktif adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari.
Top of Form

2.2 Karakteristik Active Learning
Pembelajaran  aktif  adalah  segala  bentuk  pembelajaran yang  memungkinkan  siswa berperan  secara  aktif  dalam  proses  pembelajaran  itu  sendiri  baik  dalam  bentuk  interaksi antar  siswa  maupun siswa  dengan  pengajar  dalam  proses  pembelajaran tersebut.
Menurut  Bonwell (1995),  pembelajaran  aktif  memiliki  karakteristik-karakteristik  sebagai berikut:
·         Penekanan  proses  pembelajaran  bukan  pada  penyampaian  informasi  oleh pengajar  melainkan  pada  pengembangan  keterampilan  pemikiran  analitis  dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
·         Siswa tidak  hanya belajar  secara  pasif  tetapi  mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
·         Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap yang berhubungan dengan materi pelajaran,
·         Siswa  lebih  banyak  dituntut  untuk  berpikir  kritis,  menganalisa  dan melakukan evaluasi,
·         Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Di  samping karakteristik tersebut, secara  umum  suatu  proses  pembelajaran  aktif memungkinkan  diperolehnya  beberapa  hal.  Pertama,  interaksi yang  timbul  selama  proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence, dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan guru harus    mendapatkan  penilaian  untuk  setiap  siswa  sehingga  terdapat individual accountability.  Ketiga,  proses  pembelajaran  aktif  ini agar  dapat  berjalan  dengan  efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.
Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materi juga meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah 10 menit  pelajaran,  siswa  cenderung  akan  kehilangan  konsentrasinya  untuk  mendengar pelajaran yang  diberikan  oleh  pengajar  secara  pasif. Hal  ini  tentu  akan  makin  membuat pembelajaran  tidak  efektif  jika pembelajaran  terus  dilanjutkan  tanpa  upaya-upaya  untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif, hal tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada siswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada siswa. Pada akhirnya  hal  ini  akan  membuat  proses  pembelajaran  mencapai learning outcomes yang diinginkan.

2.3 Prinsip-Prinsip Active Learning
Untuk menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta mengetahui prinsip-prinsipnya. Prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
1). Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan mudah.
2). Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek. Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Perhatian dan motivasi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada kegiatan belajar, guru dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
3). Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4). Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.
5). Asosiasi
Secara sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon. Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Di sini siswa dihadapkan pada situasi baru yang dapat menuntut pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya.

2.4 Sintak atau Langkah-Langkah Active Learning
  Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Menurut Machmudah (2008), berikut adalah sintak atau langkah-langkah model pembelajaran aktif (Active Learning) :
·         Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Dalam fase ini  guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan adalah untuk memahami sel darah pada sistem peredaran darah.
·         Fase 2: Menyajikan informasi
Dalam fase ini guru menyampaikan penjelasan umum   tentang peredaran darah kepada siswa.
·         Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
Dalam fase ini guru membagikan kartu berisi informasi tentang sel darah sebagai penentuan kelompok siswa.
·         Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Dalam fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
·         Fase 5: Evaluasi
Dalam fase ini guru meminta siswa  mempresentasikan hasil diskusi,  guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari dengan memberikan soal dan penjelasan.
·         Fase 6: Memberikan penghargaan
Dalam fase ini guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang terbaik sesuai dengan kriteria guru.

2.5 Jenis-jenis Active Learning
            Menurut Hamruni (2012), Model Pembelajaran Active Learning dapat diterapkan menggunakan beberapa metode, antara lain :
a.       True or False (Benar atau Salah)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Guru membuat list pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separohnya benar dan separohnya lagi salah. Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda. Jumlah lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
2.      Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut. Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan cara apa saja untuk menentukan jawaban.
3.      Setelah selesai, guru meminta siswa membaca masing-masing pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah.
4.      Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan menegaskan bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama.
5.      Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama dalam kelompok akan membantu kelas.

b.      Guided Teaching (Pembelajaran Terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan kemampuan yang mereka miliki.
2.      Guru memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil.
3.      Guru meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka, kemudian guru mencatat jawaban-jawaban mereka.
4.      Guru menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian meminta siswa untuk membandingkan jawaban mereka dengan poin-poin yang telah disampaikan. Setelah itu, guru mencatat poin-poin yang dapat memperluas bahasan materi.

c.       Card Sort (Cari Kawan)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing-masing kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.     Guru membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
2.     Guru meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu yang kategorinya sama.
3.     Guru meminta siswa mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
4.     Guru memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi.

d.      The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing bersama seorang siswa di sebelahnya. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2.      Guru meminta setiap siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
3.      Setelah selesai, guru meminta mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4.      Guru meminta pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban indiviual mereka.
5.      Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban mereka

e.       Rotating Roles (Permainan Bergilir)
Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap situasi kehidupan nyata. Metode ini meminta kepada siswa untuk membuat skenario kehidupan yang nyata berkaitan dengan materi yang sedang didiskusikan. 


Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga siswa.
2.      Guru memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik diskusi.
3.      Kemudian guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk menyampaikan skenario kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap tim mempunyai kesempatan untuk latihan peran utama, dan dalam skenario tersebut guru konsentrasi pada identifikasi pelaku utama dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana pengembangannya.
4.      Setelah selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi umum dari poin-poin belajar skenario dan nilai aktifitas di dalamnya.

f.       Reading Guide
Pembelajaran dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka guru memberikan pedoman (guide) membaca. Pedoman ini berisi pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab siswa berdasarkan isi bacaan (teks), bisa berisi tugas – tugas yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Berilah siswa teks (bacaan) yang harus mereka pelajari, akan lebih baik lagi bila ditunjukkan halamannya.
2.      Mintalah peserta didik untuk membaca teks (bacaan) secara individual, kemudian membuat resume mengenai topik – topik penting yang ada dalam bacaan tersebut (berbentuk pointers).
3.      Diskusikan topik – topik penting hasil temuan siswa dan nyatakan bahwa ada sejumlah topik itu memang penting namun ada pula yang tidak penting.
4.      Selanjutnya guru membagikan memberikan lembaran pedoman belajar dalam memahami teks (bacaan), biasanya berbentuk pertanyaan.
5.      Para siswa diminta menjawab pertanyaan – pertanyaan yang ada dalam lembar pedoman tersebut.
6.      Diskusikan jawaban – jawaban siswa tersebut.

g.       Info Search
            Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal, dan sumber – sumber belajar yang lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Bagilah siswa dalam kelompok – kelompok kecil, sekitar 2 atau 3 orang.
2.      Berilah masing  - masing kelompok pertanyaan atau tugas yang bisa dicari jawabannya di tempat – tempat yang sudah ditunjukkan guru.
3.      Pertanyaan atau tugas yang diberikan sebaiknya disandarkan pada beberapa buku (leteratur).
4.      Kelompok mengerjakan tugas atau menjawab pertanyaan, dan sekitar 30 menit sebelum habis jam pelajaran mereka harus kembali masuk ke dalam kelas.
5.      Di kelas, masing – masing kelompok melaporkan hasil belajarnya dalam mencari informasi diberbagai sumber belajar tersebut.
6.      Diskusikan temuan – temuan kelompok tersebut

h.       Index Car Match
            Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada kawan sekelas.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan dalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang sesuai dengan jumlah siswa.
2.      Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan – pertanyaan tersebut.
3.      Gabungkan dua lembar kartu dan kocok bebrapa kali sampai benar – benar acak.
4.      Berikan satu kartu pada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan permainan. Sebagian memegang pertanyaan dan sebagian lain memegang jawaban.
5.      Perintahkan peserta didik menemukan kartu pemainnya. Ketika permainan dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain utnuk mencari tempat duduk bersama.

i.        Everyone is A Teacher Here
Metode ini mudah dalam memperoleh pertisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu.Metode ini memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar” terhadap peserta didik lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan  yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas.
2.      Kumpulkan kartu, koscok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam – diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.
3.      Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka dapat dan memberi respons.
4.      Setelah diberi respons, mintalah yang lain di dalam kelas untuk menambahakan apa yang telah disumbang sukarelawan.
5.      Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.

j.        Student Created Case Study
Studi kasus merupakan salah satu di antara sekian metode pembelajaran yang dianggap sangat baik. Satu tipe diskusi kasus menfokuskan isu menyangkut suatu situasi nyata kasus atau contoh yang mengharuskan siswa untuk mengambil tindakan, menyimpulkan manfaat yang dapat dipelajari dan cara – cara mengendalikan atau menghindari situasi serupa pada waktu yang akan datang. Teknik berikut memungkinkan peserta didik menciptakan studi kasus sendiri.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Bagi kelas menjadi pasangan – pansangan atau trio. Ajaklah mereka mengembangkan sebuah studi kasus dan sisa kelas dapat menganalisis dan mendiskusikan.
2.      Jelaskan bahwa tujuan studi kasus adalah mempelajari topik dengan menguji situasi nyata atau contoh yang merefleksikan topik.
3.      Berikan waktu yang cukup bagi seetiap pasangan atau trio untuk mengembangkan kasus atau isu untuk didiskusikan atau suatu problem untuk dipecahkan, yaitu suatu masalah yang relevan dengan materi pembelajaran.
4.      Kemudian setiap pasangan membuat rangkuman studi kasus, secara khusus detail kejadian yang mengarah pada pemecahan masalah.
5.      Ketika studi kasus selesai, mintalah kelompok – kelompok agar mempresentasikan kepada kelas. Persilahkan seorang anggota kelompok memimpin diskusi kasus.

k.       Point-Counterpoint
            Metode ini merupakan sebuah teknik untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan, namun tidak terlalu formal dan berjalan dengan lebih cepat.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Pilihlah sebuah masalah yang mempunya dua perspektif (sudut pandang) atau lebih.
2.      Bagilah kelas ke dalam kelompok – kelompok menurut jumlah perspektif yang telah ditetapkan, dan mintalah tiap kelompok mengungkapkan mendiskusikan alasan – alasan yang melandasi sudut pandang masing – masing tim. Doronglah mereka bekerja dengan patner tempat duduk atau kelompok – kelompok inti yang kecil.
3.      Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan jarak antara sub – sub kelompok .
4.      Jelaskan bahwa peserta didik bisa memulai perdebatan . Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan menyampaikan sebuah argument yang sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Teruskan diskusi tersebut, dengan bergerak secara cepat maju – mundur di antara kelompok – kelompok.
5.      Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu – isu sebagaimana Anda melihatnya. Berikan reaksi dan diskusi lanjutan.

l.        Students Questions Have
            Metode ini merupakan cara yang mudah untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan siswa. Cara ini menggunakan sebuah teknik mendapatkan partisipasi melalui tulisan dari pada lisan atau percakapan. Harapan siswa ini bisa dilihat dari jumlah centangan yang ada pada sebuah pertanyaan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Bagikan kartu kosong setiap siswa (kertas HVS dibagi 4 bagian).
2.      Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang pembelajaran yang sedang dipelajari (tidak usah mencantumkan nama peserta didik).
3.      Putarlah kartu tersebut searah jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, siswa harus membacanya dan memberikan tanda centang pada kartu itu apabila kartu itu berisi pertanyaan yang setujui.
4.      Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta berarti telah membaca seluruh pertanyaan kelompok tersebut. Selanjutnya, mengidentifikasi pertanyaan mana yang memperoleh suara terbanyak. Jawab masing – masing pertanyaan tersebut dengan mengembangkan diskusi kelas.
5.      Panggil juga beberapa peserta untuk berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun mereka tidak memperoleh suara terbanyak.
6.      Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan yang mungkin dijawab oleh guru pada pertemuan berikutnya.

m.    Listening Team
            Metode ini merupakan sebuah cara membantu peserta didik agar tetap terfokus dan siap dalam pembelajaran yang berlangsung. Strategi Listening Team ini menciptakan kelompok – kelompok kecil yang bertanggung jawab menjelaskan materi pembelajaran sesuai dengan posisinya masing – masing.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Bagilah peserta didik menjadi empat tim, dan berilah tim – tim itu tugas ini:
Tim
Peranan
Tugas
A
Penanya
Setelah pelajaran yang didasarkan ceramah selesai, paling tidak menanyakan dua pertanyaan mengenai materi yang disampaikan
B
Setuju
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, menyatakan poin – poin yang mereka sepakati dan menjelaskan alasannya
C
Tidak Setuju
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, mengomentari poin yang tidak mereka setujui dan menjelaskan alasannya
D
Pemberi contoh
Setelah pelajaran yang didasarkan pada ceramah selesai, memberi contoh – contoh kasus atau aplikasi materi.

2.      Sampaikan materi pembelajaran berbasis ceramah (kuliah). Setelah selesai, berilah tim waktu beberapa saat untuk mendiskusikan tugas – tugas mereka.
3.      Persilahkan tiap – tiap tim untuk bertanya, menyepakati, menyanggah, memberi contoh, dan sebagainya. Strategi ini akan memperoleh partisipasi peserta didik yang mencengangkan lebih daripada yang pernah dibayangkan.

2.6 Kelebihan dan  Kelemahan Active Learning
Active learning sebagai model dalam pembelajaran mempunyai keuntungan  sebagai berikut :
  1. Peserta didik lebih termotivasi
Model pembelajaran active learning memungkinkan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaikan materi  ketika peserta didik menikmatinya. Dengan melakukan hal yang sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.
2.      Mempunyai lingkungan yang aman
Kelas merupakan tempat di mana  terjadi percobaan serta kegagalan-kegagalan. Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal-hal tersebut, tetapi juga memberi semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Resiko harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Pendidik   dapat menyediakan lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas perilaku dalam kelas.
3.      Pertisipasi oleh seluruh kelompok belajar
Peserta didik merupakan bagian dari  rencana pembelajaran. Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik mencarinya. Beberapa kegiatan membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan membutuhkan peserta didik untuk menjadi bagiannya. Semua mempunyai tempat dan berkontribusi berdasarkan karakteristik masing-masing.
4.      Setiap orang bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
Setiap orang bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan mengaplikasikannya  sesuai dengan kondisi mereka.
5.      Kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya
Peraturan dan bahasa boleh diubah menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Dengan membuat perubahan, kita dapat melakukan kegiatan yang relevan dengan berbagai  usia kelompok yang bervariasi dengan mengeksplorasi konsep yang sama.
6.      Reseptif meningkat
Dengan menggunakan active learning sebagai model dalam pembelajaran di mana prinsip-prinsip dan penerapan dari prinsip-prinsip diekspresikan oleh peserta didik, informasi menjadi lebih mudah untuk diterima dan diterapkan.
7.      Pendapat induktif distimulasi
Jawaban atas pertanyaan tidak diberikan tetapi pertanyaan tersebut dieksplorasi. Pertanyaan dan jawaban muncul dari peserta didik selama kegiatan pembelajaran.
8.      Partisipan mengungkapkan proses berpikir mereka
Sementara kegiatan diskusi berlangsung, pendidik dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik. Dengan demikian pendidik dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan.

9.      Memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Jika peserta didik  melakukan kesalahan yang menyebabkan kegagalan, hentikan kegiatan dan pikirkan alternatif lain dan mulai lagi kegiatan. Dengan demikian peserta didik dapat belajar bahwa kesalahan dapat menjadi sesuatu hal yang menguntungkan dan membimbing kita untuk menjadi lebih baik.
10.  Memberi kesempatan untuk mengambil resiko
Peserta didik merasa bebas untuk berpartisipasi dan belajar melalui keterlibatan mereka karena mereka tahu bahwa kegiatan yang dilakukan merupakan simulasi. Mengambil resiko  merupakan hal yang sulit dalam masyarakat yang mengidolakan pemenang. Dengan memberikan kesempatan  pada siswa untuk berpartisipasi tanpa tekanan untuk menjadi pemenang, kita telah memberi kebebasan untuk mencoba tanpa merasa malu untuk melakukan kesalahan.
Sedangkan kelemahan-kelemahan dalam penerapan model pembelajaran active learning adalah:
  1. Keterbatasan waktu
Waktu yang disediakan untuk pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua atau lebih pertemuan.
2.      Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan
Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.
3.      Ukuran kelas yang besar
Kelas yang mempunyai jumlah peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan active learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat memperoleh hasil yang optimal.
4.      Keterbatasan materi, peralatan dan sumber daya
Keterbatasan materi, peralatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, serta sumberdaya akan menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.
5.      Resiko penerapan active learning
Hambatan terbesar adalah keengganan pendidik untuk mengambil berbagai resiko diantaranya resiko peserta didik tidak akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau mempelajari konten yang cukup. Pendidik takut untuk dikritik dalam mengajar dan merasa kehilangan kendali kelas serta keterbatasan keterampilan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran aktif (active learning) untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik  pribadi mereka miliki. Di samping itu, pembelajaran aktif juga untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Dan dalam proses kegiatan belajar mengajar akan lebih mudah dipahami serta lebih lama diingat siswa, apabila siswa dilibatkan secara aktif baik mental, fisik, dan sosial. Dalam pelaksanaan pembelajaran aktif guru dapat menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan kondisi siswa. Penggunaan metode belajar aktif dalam kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan kondisi belajar dan kemampuan guru dalam melaksanakan metode tersebut.
1.1     Saran
Untuk mewujudkan pembelajaran yang inovatif maka dapat digunakan model pembelajaran active learning sehingga proses pembelajarannya tidak hanya berpusat pada guru, tetapi siswa juga harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran akan menjadi lebih bermakna. Dibutuhkan kecakapan guru dalam mengendalikan kelas, keaktifan siswa dalam proses belajar, waktu dan fasilitas pendukung yang memadai dalam penerapan pembelajaran aktif.
Semoga dengan makalah yang telah dibuat ini dapat memberi tambahan pengetahuan terkait model pembelajaran aktif (active learning) sehingga guru dapat memilih dan menerapkannya dengan baik dalam pembelajaran yang lebih inovatif dan bermakna.


DAFTAR PUSTAKA

Bellamy, L., Barry, W., & Foster, S. (1999). A Learning Centered Approach to EngineeringEducation for the 21st Century: The  Workshop.  College of Engineering and AppliedSciences : Arizona State University.
Bonwell, C.C. (1995). Center for Teaching and Learning, Active Learning: Creating excitement in the classroom. St. Louis College of Pharmacy.
Hamruni. 2012. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta : Insan Madani
Machmudah, Ummi. 2008. Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. Malang : UIN-Malang Press
Silberman, Mel. (2004). Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.). Yogyakarta:Yappendis.
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Ghalia Indonesia.
Thomas, J. (1972).  The variation of memory with time for information appearing during alecture. Studies in Adult Education, 4, 57-62
Zaini, Hisyam. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.





                


    

Tidak ada komentar :

Posting Komentar